Indonesia Makmur Berkat Zakat

25 Jun 2016

Apa aktivitas keluargamu pada pertengahan akhir Ramadhan?

Pasti jawabannya bervariasi. Ada yang makin rajin beribadah, I’tikaf, rajin ikut pengajian, perbanyak tilawah supaya target Khatam Qur’an tercapai. Ada yang gencar berwirausaha seperti usaha kuliner untuk berbuka puasa, usaha kue kering untuk cemilan lebaran, usaha menjahit baju untuk lebaran dan usaha lainnya yang bisa panen di Bulan Ramadhan. Iya memang, bulan Ramadhan memang bulan suci dimana semua ibadah akan dilipatgandakan Allah. Bulan Ramadhan juga bulan penuh berkah dan membuka pintu rejeki yang biasanya “hanya panen” di Bulan Ramadhan. Allah memang Maha Pengasih membuka pintu rejekinya kepada umat yang pintar memanfaatkan momen Ramadhan untuk berwirausaha. Tak heran banyak wirausaha yang rejekinya melimpah di Bulan Ramadhan. Alhamdulillah ya.

Selain itu, ada juga aktivitas menarik pada pertengahan akhir Ramadhan.

Sebuah keluarga selalu membuat daftar kepada mustahiq untuk diberikan zakat maal. Keluarga tersebut mengatur pengelolaan zakat secara individu. Mulai dari membuat daftar mustahiq yang akan diberikan zakat sampai memberikan langsung ke tangan mustahiq.

Sebenarnya cara pengelolaan zakat yang dikelola individu banyak manfaatnya, seperti:

  • Dapat merasakan hidup keluarga yang kurang mampu baik fisik, umur maupun kondisi keuangan. Para muzakki dapat bersyukur atas semua nikmat yang diberikan kepada Allah dan akan merasa malu bila masih mengeluh terhadap berbagai masalah mungkin itu masalah gaji yang masih dianggap belum cukup, masalah pekerjaan yang terlalu banyak dikasih atasan, masalah anak yang sering rewel atau mungkin juga masalah listrik sering padam.
  • Dapat menjalin silaturrahim kepada umat muslim. Berbagai kesibukan kadang-kadang membuat putusnya jalinan komunikasi antar semua warga. Nah, dengan adanya zakat akan dapat menjalin hubungan silaturrahim dengan warga lain dan dapat mengetahui kondisi warga terkini. Bisa jadi warga yang dulunya sehat walafiat berubah kondisi fisiknya, mungkin makin lemah atau mungkin juga sudah tiada.
  • Dapat menghindari sifat riya dan menumbuhkan sifat saling memberi kepada sesama. Sehingga tidak ada jurang antar orang kaya dan miskin. Orang miskin dapat terbantu kondisi ekonomi sementara orang kaya dapat membersihkan hartanya. Allah juga akan membalas dan mengganti zakat yang diberikan berkali lipat. Ngga percaya? Saya sendiri sudah sering merasakan keajaiban zakat. Kira-kira setahun yang lalu saya pernah mengikhlaskan uang kepada Lembaga Zakat untuk membayar zakat. Saya membayarnya via transfer pada sore hari. Sepulang dari ATM saya langsung mendapat kabar gembira bahwa saya memenangkan kompetisi blog. Rasa syukurpun berulang kali saya panjatkan. Allah mengganti uang saya yang nominalnya 5X dari uang yang saya zakatkan hanya dalam beberapa menit saja. Alhamdulillah…

Zakat berperan untuk kemakmuran negara

Sempat terbesit dibenak saya “Jika semua umat Islam di negeri ini membayar zakat, pasti Indonesia akan makmur?” Tidak akan ada lagi peminta-minta di jalanan. Tidak ada lagi warga yang mati karena kelaparan. Tidak ada lagi pencopet dan tindakan kriminal yang terpaksa dilakukan seseorang karena tidak sanggup membiayai kebutuhan keluarganya.

Namun saya malah berpikir ulang dengan pertanyaan tadi. Menurut saya umat Islam peduli terhadap sesama. Buktinya saja dengan mengamati kabar yang heboh di media sosial dalam beberapa hari ini. Itu loh kasus Ibu Saeni, penjual warteg asal Serang. Beliau disidak dan diambil semua hasil jualannya saat berjualan siang hari di bulan Ramadhan. Banyak yang pro dan kontra terhadap PERDA Serang dan sikap Satpol PP Serang. Bahkan ada netizen yang kontra melakukan penggalangan dana untuk Ibu Saeni. Tak disangka-sangka dana yang terkumpul mencapai lebih dari 200 juta hanya dalam 3-4 hari. Melihat kejadian tersebut bisa dibilang umat Islam itu pemurah dan jiwa kesadaran sosialnya tinggi terhadap orang yang membutuhkan.

Akhirnya sayapun menukar pertanyaan menjadi “Kenapa masih banyak penduduk Indonesia yang masih kurang makmur sementara orang yang peduli kepada sesama itu banyak?” Padahal menurut informasi yang saya dapatkan, potensi zakat Indonesia mencapai 19.3 triliyun rupiah. Sungguh aneh jika masih sering ditemui peminta-minta di jalanan, warga yang mati karena kelaparan, tindakan kriminal, dan lain-lain.

Ternyata penduduk Indonesia masih kurang makmur karena…

Pertama, masih banyak umat Islam yang tidak bisa membedakan makna zakat fitrah, zakat maal, infaq dan shadaqoh. Banyak yang mengira semua itu sama saja. Padahal kita harus meluruskan dan memantapkan niat untuk berzakat. Karena zakat fitrah dan zakat maal hukumnya wajib, sama dengan sholat wajib, sama-sama termasuk Rukun Islam. Sementara infaq dan shadaqoh hukumnya Sunnah.

(Sumber: http://fiqhsunnah.blogspot.co.id/2011/08/cara-menghitung-zakat-mal.html )

Kedua, pemberian zakat secara individu ternyata menimbulkan banyak masalah. Hmm, ternyata kebiasaan penyaluran zakat seperti keluarga tadi tidak dianjurkan.

Kenapa? Karena pembagian zakat secara individu menyebabkan kurangnya pemerataan mustahiq. Ada daerah yang banyak mustahiq, ada juga yang tidak ada sama sekali mustahiq-nya. Selain permasalahan itu, sering juga dijumpai mustahiq yang memiliki ketergantungan meminta-minta kepada muzakki. Alhasil para mustahiq menjadi pasif untuk bekerja.

Ketiga, kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga zakat. Banyak masyarakat yang suudzon kepada lembaga zakat karena kurang amanah dan kurang profesional.

Jadi, apa solusi Indonesia bisa makmur dengan keberkahan zakat?

  • Umat Islam harus memahami ilmu fiqh. Umat Islam harus paham bahwa zakat bukan sekadar pemberian. Zakat itu berbada dengan infaq dan shadaqoh.
  • Sebaiknya umat Islam memberikan zakat tidak secara individu tapi melalui lembaga zakat. Karena lembaga zakat dapat menyalurkan zakat dengan merata. Tidak ada daerah yang menumpuk mustahiq-nya. Selain itu, adanya lembaga zakat secara tidak langsung akan membuat muzakki terlihat ikhlas dan memiliki sifat low profile. Karena mustahiq tidak tahu siapa yang memberikan zakat kepadanya. Sehingga tidak ada lagi mustahiq yang memiliki ketergantungan kepada muzakki.
  • Umat Islam harus percaya terhadap lembaga zakat. Karena lembaga zakat dapat memberdayakan masyarakat dari zakat. Lembaga zakat tidak sekadar memberikan uang kepada mustahiq seperti yang dikelola secara individu. Lembaga zakat dapat memberdayakan masyarakat dengan membuat berbagai program, seperti pemberian modal usaha, memberikan penyuluhan dan pelatihan. Dengan demikian, zakat bisa sesuai dengan esensinya, yaitu memutar harta sehingga berkembang dan produktif. Pada akhirnya akan tercipta kemakmuran Indonesia.

Sebenarnya anggapan segelintir orang terhadap lembaga zakat yang tidak profesional itu tidak sepenuhnya benar. Ada loh lembaga zakat sudah berdiri lebih dari 20 tahun dan sangat amanah.

Adalah Dompet Dhuafa, lembaga nirlaba milik masyarakat Indonesia yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan kaum dhuafa dengan dana ZISWAF (Zakat, Infaq, Shadaqah, Wakaf, serta dana lainnya yang halal dan legal, dari perorangan, kelompok, perusahaan/lembaga). Kelahirannya berawal dari empati kolektif komunitas jurnalis yang banyak berinteraksi dengan masyarakat miskin, sekaligus kerap jumpa dengan kaum kaya. Lembaga yang digagas oleh Parni Hadi, Haidar bagir, S. Sinansari Ecip, dan Eri Sudewo sebagai Dewan Pendiri lembaga independen Dompet Dhuafa Republika sudah hampir 23 tahun berdiri dan sangat amanah. Hal ini terbukti dari transparannya laporan keungan yang selalu di-update pada website Dompet Dhuafa. (Sumber: http://www.dompetdhuafa.org/)

Saat ini, Dompet Dhuafa mengangkat jargon Zakatnesia, dengan prinsip “sebarkan kebajikan dan kebaikan semudah ngelike di Social Media”. Sesuai dengan namanya, Zakatnesia, Dompet Dhuafa berharap Indonesia berkah dengan zakat. Untuk mengelola Zakatnesia, Dompet Dhuafa memiliki beragam program pemberdayaan untuk menyalurkan zakat dalam berbagai sektor seperti pendidikan (membuat Sekolah Guru Indonesia dengan mengirimkan guru ke daerah 3T, mendirikan sekolah SMART Ekselensia Indonesia yang ditujukan untuk anak-anak dhuafa, memberikan program Beastudi Indonesia), kesehatan (Layanan Kesehatan Cuma-cuma, Rumah Sehat Terpadu), ekonomi (pertanian sehat Indonesia, kampoeng ternak nusantara, tebar hewan kurban, karya masyarakat mandiri, Tabungan Wakaf Indonesia, IMZ, Dompet Dhuafa Travel, Institut Kemandirian), sosial masyarakat (lembaga Pelayanan Masyarakat, Migrant Institute, Disaster Management Centre, Semesta Hijau, Cordofa)

Program Pemberdayaan Dompet Dhuafa (Sumber: http://www.dompetdhuafa.org/)

Tak hanya itu, Dompet Dhuafa juga membuat satu kawasan pemberdayaan umat terpadu di Parung Bogor bernama Zona Madina. Kawasan pemberdayaan seluas 3.6 Hektar yang dibagun pada 7 Januari 2009 (10 Muharam 1030 H) itu awalnya membangun Rumah Sakit Zakat terbesar di Indonesia yaitu Rumah Sehat Terpadu –  Dompet Dhuafa.

Zona Madina didesain berlandaskan tata nilai Islam yang rahmatan lil alamin dengan pemberdayaan dalam aspek sosioekonomi, budaya dan pengembangan nilai religi yang terbukti dengan adanya pembangunan masjid sebagai pusat sentra kawasan.

Zona Madina memiliki bangunan rumah sakit tanpa biaya bernama Rumah Sehat Terpadu, sekolah unggulan, kompleks rumah susun sederhana, area pusat inkubasi bisnis UKM, perpustakaan digital, gedung pelatihan, area outbound, masjid, sarana olahraga, gedung pertemuan, pusat perkantoran dan pemberdayaan. (sumber: https://zonamadina.wordpress.com)

Denah Zona Madina (Sumber: https://www.facebook.com/zona.madina.5 ) 

Penutup

Peran zakat yang utama untuk meningkatkan kemakmuran negara. Jika setiap umat Islam mengeluarkan zakat dan menyalurkannya kepada lembaga zakat seperti Dompet Dhuafa, kemudian lembaga zakat dapat profesional mengelola zakat, Insya Allah mimpi Indonesia berkah dan makmur tercapai. Aamiin.

Referensi:

http://www.dompetdhuafa.org/

https://zonamadina.wordpress.com


TAGS Zakat sosial


-

Author

Follow Me