PMI Siaga Bencana; Dimanapun untuk Siapapun

12 Jun 2016

Siapa sih yang tidak tahu PMI?

Kita semua tahu bahwa PMI (Palang Merah Indonesia) adalah organisasi kemanusiaan pemerintah Indonesia. Bagi beberapa orang PMI dikenal sebagai organisasi yang terlibat dalam kegiatan donor darah. Setiap ada kegiatan donor darah pasti ada relawan PMI. Setiap ada yang membutuhkan darah, kantor PMI selalu menjadi rujukan pertama untuk mencari stok darah yang dibutuhkan.

Visi, Misi, Tujuan Strategis PMI (Sumber: http://www.pmi.or.id)

Tapi, tahukah kamu?

Sebenarnya PMI tidak hanya terlibat dalam kegiatan donor darah tapi juga membantu korban perang, membantu masyarakat yang terkena bencana dan mengurangi dampak bencana, melakukan pertolongan pertama, memberikan pelayanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, melakukan aksi sosial yang berhubungan dengan lingkungan seperti penanaman pohon (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Palang_Merah_Indonesia

Tidak hanya aktifitas dan tugas PMI yang semakin banyak. Keberadaan PMI juga semakin luas. Saat ini, PMI telah menjamah semua provinsi Indonesia, mulai dari Kota/Kabupaten sampai daerah pelosok. Jumlah sukarelawan PMI juga semakin banyak yaitu mencapai 1.5 juta relawan (sumber: http://www.pmi.or.id/index.php/tentang-kami/sejarah-pmi.html).

Meskipun semakin berkembang, PMI tetap mengutamakan tujuan utamanya yaitu meringankan penderitaan sesama manusia apapun sebabnya tanpa membedakan golongan, bangsa, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama ataupun kepercayaan baik di waktu damai maupun di waktu perang. PMI juga mempunyai motto “Anywhere to Anyone” atau “Dimanapun untuk Siapapun”. PMI selalu siaga dimanapun untuk membantu siapapun yang membutuhkan pertolongan.

Katanya PMI juga bertugas membantu masyarakat yang terkena bencana, kok bisa sih?

Seperti diketahui Indonesia memiliki kondisi tektonik yang kompleks, terletak di antara pertemuan lempeng Indo-Australia, lempeng Pasifik dan lempeng Eurasia. Akibat pertemuan lempeng tersebut, Indonesia memiliki sesar-sesar yang aktif sehingga rentan menimbulkan bencana gempa tektonik. Indonesia juga terletak pada jalur ring of fire yang menimbulkan dampak positif (untuk energi geothermal) dan dampak negatif (gunungapi meletus dan gempa vulkanik). Selain itu, Indonesia juga memiliki kondisi geografis yang bisa menimbulkan tanah longsor dan banjir. Melihat kondisi tektonik dan geografis itulah PMI membuat divisi siaga bencana.

Mandat PMI dalam membantu penanggulangan bencana ini tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) No. 25 tahun 1950 dan Keppres No. 246 tahun 1963 tentang PMI yang bekerja melaksanakan tugas atas nama pemerintah dan bertanggungjawab kepada pemerintah dengan tetap berprinsip kepada kemandirian PMI dan dalam hal bencana, PMI mempunyai tugas antara lain sebelum bencana, saat bencana, dan pasca bencana (sumber: http://www.pmi.or.id/index.php/aktivitas/pelayanan/manajemen-bencana/tanggap-darurat-bencana.html)

Apa sih tugas PMI siaga bencana?

Sumber: dokumentasi pribadi Bang Poly

PMI siaga menghadapi bencana. Hal ini dapat dibuktikan dengan terbentuknya dua divisi yang bertugas tentang bencana, yaitu divisi kesiapsiagaan bencana dan divisi respon bencana (penanggulangan bencana). Setiap divisi tersebut mempunyai relawan masing-masing.

Relawan kesiapsiagaan bencana bertugas memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai upaya-upaya dalam pencegahan bencana dan langkah-langkah kesiapsiagaan dan tindakan yang dapat dilakukan pada sebelum, saat dan sesudah bencana. Contohnya memberikan penyuluhan Pengurangan Resiko Bencana (PRB) berupa pengetahuan tentang bencana, membuat peta bahaya, kapasitas dan kerentanan, menyusun rencana evakuasi dan mitigasi bencana.

​Relawan respon bencana (penanggulangan bencana) bertugas memberikan pelayanan tanggap darurat bencana, membantu korban saat terjadi bencana sampai masa pemulihan pasca bencana. Relawan respon bencana menjalankan prinsip “6 jam sampai di lokasi bencana”, yaitu respon awal PMI dilakukan dalam waktu 6 jam setelah bencana terjadi. Tujuannya untuk mendukung respon PMI yang diupayakan secara cepat, tepat dan terkoordinasi (sumber: http://www.pmi.or.id/index.php/aktivitas/pelayanan/manajemen-bencana/tanggap-darurat-bencana.html ). PMI memberikan pelayanan evakuasi korban, penampungan darurat, pertolongan pertama, medis, armada (ambulans, helikopter, mobil amphibi, mobil tangki air, mobil donor darah), dapur umum, distribusi bantuan serta menyediakan kebutuhan air dan sanitasi yang layak untuk korban bencana.

Bagaimana, sudah jelaskah tugas tanggap bencana PMI?

Belum terlalu jelas, ya?

Kalau belum, yuk baca lagi sampai ke bawah!

Kebetulan saya sempat menanyakan langsung program siaga bencana dari para relawan PMI, yaitu mba Julia Wati (30 tahun) dari PMI Kabupaten Aceh Jaya, mba Meri Anggraini (28 tahun) dari PMI Kabupaten Bogor, dan bang Fahri Husaini yang akrab disapa bang Poly (48 tahun) dari PMI provinsi Aceh. Mereka adalah para relawan PMI yang super keren.

Volunteers on Talk

Bagaimana latar belakang anda mengikuti relawan PMI?

Mba Julia: Pasca tsunami sangat banyak orang datang ke Aceh untuk membantu korban di sana. Saya tertarik menjadi salah satu tenaga relawan untuk membantu sesama walaupun pada saat itu kondisi saya masih tidak stabil (masih trauma tsunami). Saya ingin mencari aktifitas/kesibukan yang dapat dilakukan di tengah kehidupan di pengungsian (tenda).

Mba Meri: Semenjak SD giat mengikuti dokter kecil, SMP giat mengikuti PMR tingkat madya dan SMA meneruskan ke PMR tingkat Wira. Setelah itu, saya mengetahui bahwa minat saya berada di dunia kemanusiaan sehingga mendaftarkan diri dalam perekrutan KSR (Korps Sukarela) PMI Kabupaten Bogor.

Bang Poly: Selesai bekerja di perusahaan konstruksi pabrik kertas tahun 1998 – awal 2000, saya terkena surplus dan kembali ke Aceh untuk melihat kondisi Aceh yang pada saat itu sedang terjadi konflik panas. Selama 6 bulan yaitu pada tahun 2000, saya tidak ada kegiatan. Tiba-tiba datang teman saya bernama Alm. Hermanizarman ke rumah dan mengajak saya bergabung dengan PMI Provinsi Aceh. Saat itu, Tim Siaga PMI membutuhkan relawan yang siap 24 jam. Saya datang dan berjumpa dengan Alm. Muslim Tanjung dan berkata bahwa saya siap bergabung dengan PMI Provinsi Aceh, berusaha jujur dan bertanggungjawab. Saat itu juga saya diterima bersama teman saya tadi. Jumlah relawan saat itu 9 orang (7 orang laki-laki dan 2 orang perempuan) yang siap 24 jam.

Sudah berapa lama anda terlibat dalam kegiatan relawan PMI?

Mba Julia: saya sudah terlibat kurang lebih 11 tahun
Mba Meri: saya menjadi Korps Sukarela / Relawan PMI semenjak tahun 2004
Bang Poly: saya sudah bergabung di PMI dari juni 2000 sampai sekarang, berarti sudah 16 tahun

Bagaimana suka dukanya selama aktif dalam kegiatan relawan PMI? Apa pengalaman yang paling berkesan?

Mba Julia: Sukanya itu banyak pengalaman yang saya dapat selama bergabung di PMI terutama ilmu, dikenal banyak orang, bisa belajar dan berkunjung ke daerah lain. Dukanya itu kadang-kadang walaupun membantu masih saja ada orang yang bilang inilah itulah. Pernah suatu hari saat membuat pertemuan kami diusir oleh salah seorang bapak, tidak ada yang peduli. Namun karena berniat menolong karena Allah, jadi hilang marahnya. :-)) Pengalaman berkesan sangat banyak, salah satunya adalah saat ini kami sedang melaksanakan kegiatan program PRB berbasis pesisir yangmana salah satu kegiatannya adalah penanaman mangrove. Dari kegiatan tersebut ada yang mau belajar dan sharing pengalaman bersama kami bahkan dari luar negeri (Selandia baru dan Malaysia).

Rumah bibit mangrove (sumber: dokumentasi pribadi mba Julia)

Mba Meri: Saya pernah berselisih paham dengan keluarga karena status saya hanya seorang relawan. Sementara keluarga besar saya semuanya berprofesi yang memiliki salary lebih dari cukup. Sayapun hampir didiskriminasikan oleh keluarga. Tetapi lambat laun saya mendapatkan kesempatan oleh PMI untuk mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas (Training of Trainer yang bersertifikasi TOT, sehingga setelah itu saya dapat kesempatan untuk menjadi fasilitator dan dimobilisasi ke luar daerah. Semenjak itu keluarga saya menerima status dan aktifitas saya di dunia Kepalangmerahan.

Mba Meri saat di Aceh (sumber: dokumentasi pribadi mba Meri)

Bang Poly: Sukanya, teman-teman yang sudah bergabung saling mendukung dalam tugas kemanusiaan dengan berpegang 7 prinsip dasar palang merah dan bulan sabit merah. Dukanya, saat menjalankan tugas tedapat kekurangan alat perlindungan diri seperti masker, sarung tangan, tidak ada standar operasianal (baru ada pada tahun 2002), tidak adanya dana operasional yang tetap (dana APBN). Dulunya PMI belum memiliki Rancangan Undang-Undang (RUU) Kepalangmerahan. Pada tahun 2016 bulan 6 ini hasil dari keputasan Mentri Hukum dan HAM (Yasonaleli), RUU tersebut masuk ke dalam 10 besar Proleknas. Pengalaman paling berkesannya, sewaktu bergabung di PMI, saya menangani korban konflik yang tidak memiliki keluarga, status kondisinya itu koma dan lumpuh selama 2 bulan. Sekarang dia sudah bisa berjalan dan kembali normal.

Selain menjadi relawan PMI, apakah anda mempunyai profesi lain?

Mba Julia: Saat ini saya menjabat staf di PMI Kabupaten Aceh Jaya yaitu Koordinator Lapangan Program Pengurangan Resiko Terpadu Berbasis Masyarakat (PERTAMA) daerah pesisir dengan dukungan ​Palang Merah Amerika dan USAID. Profesi lainnya saya mengajar di RA Babul Huda Calang.

Mba Julia setelah respon bencana (sumber: dokumentasi pribadi mba Julia)

Mba Meri: Relawan PMI merupakan profesi utama saya yang membuka kesempatan saya untuk dapat menjadi pengajar ekstrakurikuler di TK, SMP dan SMA.

Mba meri bersama siswa SMA (Sumber: dokumentasi pribadi mba Meri)

Bang Poly: Relawan PMI adalah profesi utama saya. Pada tahun 2000 – 2005 menjadi relawan PMI. Sejak tahun 2006 sampai sekarang, saya menjadi kepala divisi penangulangan bencana di Aceh

Bagaimana job desk relawan respon bencana dan relawan kesiapsiagaan bencana?

Mba Julia: Pada dasarnya relawan PMI tidak ada perbedaan. Kami satu. Namun, respon bencana harus siap kapan saja jika ada bencana. Sedangkan kesiapsiagaan bencana aktifitasnya berbasis program tertentu dari lembaga atau ada event tertentu.

Mba Julia mengerahkan masyarakat dalam simulasi TDB tsunami (sumber: dokumentasi pribadi mba Julia)

Mba Meri: Respon bencana tugasnya memberikan pelayanan assesment bencana, pertolongan pertama, evakuasi, shelter (huntara), air & sanitasi, RFL, psychology support program, logistik, dll. Sementara kesiapsiagaan bencana tugasnya memberikan peningkatan kapasitas (pengetahuan, sikap dan keterampilan) kepada masyarakat, melaksanakan kegiatan kampanye penyadaran masyarakat, memberikan penyuluhan, dan membuat sistem peringatan dini pada tingkat desa/kelurahan, dll.

Mba Meri memberikan penyuluhan (sumber: dokumentasi pribadi mba Meri)

Bang Poly: relawan respon bencana itu lebih ke arah penanganan bencana. Karena relawan respon itu tidak asal ditunjuk gitu aja. Relawan respon itu harus merasakan tiga dekade seperti tsunami, konflik, damai seperti sekarang. Saya sudah merasakan ketiga-tiganya.

Sebagai seorang wanita, apakah menjadi relawan mempunyai hambatan? Misal hambatan saat ditugaskan ke daerah yang terkena bencana? Adakah motivasi/nasihat yang bisa mba berikan kepada wanita yang ingin menjadi relawan PMI?

Mba Julia: Setiap pekerjaan pasti ada tantangan. PMI tidak ada perbedaan laki-laki dan perempuan. Hanya saja ​kita harus tau batasan. Kekompakan tim dan pembagian peran sesuai kemampuan itu kunci utama yang harus dapat dilalui.

Mba Meri: Selama menjadi relawan dengan niat yang tulus /menjadikannya sebuah hobby, maka tidak akan ada hambatan bagi gender yang memiliki minat dalam respon bencana.

Bagaimana upaya mitigasi bencana yang dilakukan PMI? Apakah PMI sering memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang mitigasi bencana? Apa saja aksi kemanusiaan lainnya tentang bencana dari PMI? Bolehkah diceritakan lebih detail?

Mba Julia: Salah satu aktifitas yang sedang PMI lakukan, yaitu:

  • Kampanye kesiapsiagaan pada tingkat masyarakat
  • Menjalin kerjasama dengan stakeholder terkait untuk membangun komunikasi dalam berbagai kegiatan kebencanaan, salah satunya adalah PMI sebagai inisiator dalam pembentukan Forum PRB.
  • Mitigasi yang dilakukan adalah non struktural melalui kampanye PRB, latihan, simulasi tanggap darurat bencana, membuat peta evakuasi, menyusun rencana kontinjensi, sistem peringatan dini, dsb. Sedangkan struktural yaitu membuat jalur dan rambu evakuasi, drainase, membangun green belt (mangrove dan vegetasi pantai lainnya).

Mba Meri: Di PMI kami memiliki Program Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Masyarakat, dimana wilayah tersebut akan dibina oleh PMI dan memiliki produk mitigasi sesuai dengan bahaya, kerentanan, resiko dan kapasitas yang ada di wilayah target program.

Bang Poly: Sehubungan dengan kejadian tsunami di Aceh, PMI provinsi Aceh sudah melakukan program dari 6600 desa yang berada di 23 kabupaten/kota memiliki jumlah siaga bencana berbasis masyarakat kesiapasiagan bencana berbasis masyarakaat. PMI sudah malakukan program kesiapsiagaan bencana berbasis masyarakat (KBBN) pada tahun 2006 sampai sekarang pada 17 kabupaten/kota. Sementara (Sibat) sekitar 5600 orang.

Adapun kegiatan yang dilakukan sebagai berikut:

  • Seleksi area
  • Sosialisasi dan penyuluhan program
  • Pembentukan komite penanggulangan bencana dan Sibat di desa
  • Pelatihan untuk Sibat dan komite
  • Pengkajian HVCA (Hazard Vulnerability Capacity Assessment) desa
  • Pemetaan resiko di desa
  • RPP (Risk Planning Program) yang terdiri dari pengurangan resiko (mitigasi) dan rencana kontinjensi
  • Apokasi dan sosialisasi
  • Kampanye penyadaran promosi tentang kesiapsiagan bencana

Menurut anda, bagaimana kinerja PMI sejauh ini? Jika kinerjanya PMI kurang baik, apa saran anda untuk PMI yang lebih baik?

Mba Julia: Sudah sesuai tupoksi. PMI sudah bekerja maksimal yaitu membantu pemerintah. Namun masih kurang pengakuan dari pemerintah setempat. Saran saya untuk PMI adalah sahkan RUU lambang PMI.

Mba Meri: PMI sudah melaksanakan pelayanan secara maksimal kepada masyarakat. Namun butuh peningkatan manajemen internal.

Bang Poly: Kinerja PMI Aceh dari tahun 2000 sampai sekarang sudah lebih baik dan berkembang. Hal itu bisa dilihat dari asset dan sumberdaya yang dimiliki PMI Aceh, diantaranya:

  • 23 kabupaten kota sudah memiliki kantor PMI
  • Mobil dan sepeda motor operasianal
  • Mobil ambulans
  • Peralatan kerja kantor
  • Sumberdaya yang dimiliki relawannya sudah terlatih dan berpengalaman di bidang bencana, kesehatan, psikologi.

Masalah PMI itu terkendala dari dana pemerintah baik operasional maupun dana kegiatan.
Saran saya segera sahkan Rancangan UUD Kepalang Merahan.

***

Nah, begitulah program PMI dalam menghadapi siaga bencana. Sebenarnya bencana itu memang sudah ditakdirkan Tuhan. Namun sebagai manusia kita bisa berupaya untuk meminimalisir bencana dan selalu siaga menghadapi bencana. Terima kasih kepada PMI yang sudah berkerja maksimal dan selalu siaga menghadapi bencana. Selamat hari palang merah dan bulan sabit sedunia.

Sumber bacaan:

Wawancara dari narasumber Julia Wati, Meri Anggraini, dan Fahri Husaini
http://www.pmi.or.id/index.php/tentang-kami/sejarah-pmi.html
http://www.pmi.or.id/index.php/aktivitas/pelayanan/manajemen-bencana/tanggap-darurat-bencana.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Palang_Merah_Indonesia

Sumber Foto:

Dokumentasi pribadi dari narasumber Julia Wati, Meri Anggraini, dan Fahri Husaini


TAGS PMI


-

Author

Follow Me