Pendidikan Maju, Indonesia Move On

10 May 2014

Pendidikan merupakan fondasi untuk mewujudkan Indonesia move on. Karena pendidikan dapat mencetak generasi muda yang cerdas. Pendidikan dapat melahirkan seorang ahli kesehatan, ahli ekonomi, ahli IT, ahli hukum, dsb. Pendidikan juga dapat merubah dunia yang gelap dengan kebodohan menjadi dunia yang terang benderang dengan segala macam kecanggihannya. Cobalah rasakan perbedaan kondisi 10-20 tahun yang lalu dengan saat ini! Banyak sekali kemajuan yang dirasakan, bukan?

Suatu negara bisa maju jika memiliki pendidikan yang maju pula. Jepang yang pernah dibom 60 tahun yang lalu bisa menjadi negara yang kuat karena menyelamatkan aset berharganya yaitu guru. Malaysia yang 50 tahun lalu masih menggantungkan tenaga ahli dari negara lain bisa maju karena memiliki pemimpin peduli terhadap pendidikan. Negara-negara Yahudi bisa menguasai dunia karena memiliki SDM yang cerdas.

Oke! Jangan hanya membandingkan dengan negara lain. Indonesia harus move on terhadap dunia pendidikan. Warga negara harus saling bahu membahu demi memajukan pendidikan. Jika pemerintah kewalahan dengan biaya dan sarana pendidikan, maka sebagai warga negara harus bergerak dan membantu pemerintah. Jika jumlah kaum dhuafa Indonesia masih banyak, maka kaum elite harus memberikan bantuan pendidikan.

Aku dan Rumah Baca Rahim

Jika ada yang berpendapat bahwa bimbingan belajar atau les privat hanya untuk orang kaya, maka pendapat itu salah besar. Karena Rumah Baca Rahim yang didirikan oleh Pak Iyus dan Bu Rita merupakan bimbingan belajar gratis. Mulanya Rumah Baca Rahim yang terletak di Jl. Awiligar No. 250, Bandung hanya sebuah rumah buku yang bisa digunakan oleh semua anak-anak di lingkungan sekitar. Seiring bergantinya waktu, sekitar bulan April 2013 Rumah Baca Rahim membuka bimbingan belajar matematika gratis untuk semua siswa TK sampai SMP. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan bantuan pendidikan kepada warga sekitar yang memang merupakan keluarga dari golongan menengah ke bawah.

0d964156c70b0cdc523bdb7ff0d69004_rumah-baca-rahim

Rumah Baca Rahim

Meskipun bimbingan belajarnya gratis untuk siswa, tapi pengajarnya tidak dibayar gratis. Rumah Baca Rahim membayar gaji pengajarnya dengan menyisihkan uang dari perusahaan konsultan milik Pak Iyus. Sayangnya saat mula bimbingan belajar dibuat, warga sekitar kurang menyambutnya dengan antusias. Padahal Rumah Baca Rahim sudah memberikan kepuasan kepada siswa yang belajar dengan memberikan konsumsi dan perlengkapan alat tulis gratis serta media permainan anak-anak. Setelah diusut, faktor yang menyebabkan kurang antusiasnya siswa belajar adalah kesadaran warga sekitar terhadap pendidikan. Masyarakat sekitar banyak yang kurang mementingkan pendidikan. Mereka lebih memilih hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari daripada memberikan bekal pendidikan maksimal untuk anak-anaknya.

Seiring bergantinya waktu, bimbingan belajar tersebut mulai menarik warga sekitar. Tak hanya warga sekitar tapi juga warga tetangga mulai mengajak anak-anaknya mengikuti bimbingan belajar tersebut. Sehingga, Febi sebagai pengajar pertama yang mengajar di sana kewalahan karena jumlah siswa yang membludak. Akhirnya, September 2013 Rumah Baca Rahim mencari pengajar lain yang mau mengajar di sana.

Tak sengaja aku membaca informasi lowongan tersebut pada media sosial. Aku pun langsung tertarik menjadi pengajar di sana. Berbekal alamat yang diinformasikan sebelumnya, aku mencari alamat Rumah Baca Rahim. Sebenarnya, alamatnya itu tidak begitu jauh dari tempat tinggalku. Namun, perjalanan ke sana memakan waktu yang lama karena akses transportasi umum yang tidak melewati tempat tersebut. Untuk menuju ke sana, aku harus menaiki transportasi umum hanya sampai pertigaan Jl. Cikutra dan Jl. Cukangkawung. Selanjutnya dari Jl. Cukangkawung menuju Jl. Awiligar, aku harus menaiki ojek sejauh 1 km untuk sampai ke Rumah Baca Rahim. Wajar saja jika lama kelamaan satu per satu calon pengajar mengurungkan niatnya menjadi pengajar karena lokasinya yang jauh dan tidak didukung dengan sarana transportasi umum.

Banyak hal menarik yang aku dapatkan selama mengajar di Rumah Baca Rahim. Selain dapat mengajar untuk siswa yang kurang mampu, aku juga mengetahui perkembangan pendidikannya. Aku tahu bahwa tidak semua siswa bisa mengikuti pelajaran yang telah dipelajarinya saat sekolah. Sebagai pengajar matematika, aku mengenal siswa yang baru kelas 1 SD tapi siswa tersebut sudah bisa menguasai pelajaran perkalian dan pembagian. Padahal siswa tersebut belum mendapatkan meterinya di sekolah. Aku juga mengenal siswa kelas 5 SD dan 1 SMP tapi siswa tersebut tak menguasai materi perkalian dan pembagian. Seharusnya siswa kelas 1 SMP, perkalian sudah menempel di otaknya karena sebelum masuk SMP pasti melewati Ujian Nasional (UN). Pikiran negatifku pun muncul tentang kecurangan pelaksanaan UN SD. Ini yang salah gurunya kurang membekali siswa sebelum UN atau siswanya yang melakukan kecurangan saat UN sehingga bisa lulus UN. Oke! Hilangkan pikiran negatif saat UN. Aku harus berusaha supaya semua siswa mampu menguasai pelajaran matematika sesuai jenjang kelasnya. Aku pun mencari solusi alternatif supaya siswa dapat menguasai pelajaran matematika terutama penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.

Saat ini, telah lebih 6 bulan aku menjadi pengajar matematika di Rumah Baca Rahim. Bimbingan belajar yang mulanya hanya memberikan pelajaran matematika sekarang sudah memberikan pelajaran IPA dan Bahasa Inggris. Meskipun dalam 3 bulan terakhir ini, pelajaran IPA tidak diadakan karena belum menemukan pengajar baru yang rela mengajar di Rumah Baca Rahim.

Rencana jangka panjangnya, Rumah Baca Rahim akan membuat Tempat Penitipan Anak (TPA) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pastinya butuh persiapan yang matang dengan fasilitas memadai untuk mewujudkan rencana ke depannya. Semoga saja rencana mulia tersebut dapat diwujudkan Rumah Baca Rahim.

ecd22c1eb5747aab6adfafeb175a2fde_rumah-baca-rahim-2

Suasana belajar Rumah Baca Rahim

#IndonesiaMoveOn, Jika…

Bukan bermaksud untuk merendahkan negara Indonesia. Tapi inilah faktanya! Di saat negara lain membuat gadget dengan segala macam kecanggihannya tapi Indonesia hanya bisa menggunakan kecanggihan gadget tersebut. Di saat negara lain membuat aplikasi komunikasi dan sosial media seperti facebook, twitter, WhatsApp, LINE tapi Indonesia hanya bisa menggunakan semua aplikasi tersebut. Di saat negara lain menghargai tenaga pendidik dan tenaga risetnya dengan memberikan gaji tinggi, sementara Indonesia hanya memberikan gaji seadanya. Di saat negara lain memberikan sekolah gratis sampai ke jenjang universitas dan menghamburkan beasiswa kepada warga negaranya sementara masih banyak sekolah/universitas Indonesia yang memiliki biaya pendidikan sangat tinggi.

Sekali lagi jangan hanya mengeluh, Indonesia harus move on terutama dalam bidang pendidikan. Berikut ini point yang bisa membuat Indonesia move on:

  1. Presiden selaku pemerintah harus mengembangkan sarana pendidikan di seluruh pelosok Indonesia, meningkatkan gaji tenaga pendidik untuk kesejahterannya, dan memberikan pendidikan gratis minimal untuk belajar 12 tahun.
  2. Anggota DPR dipilih karena intelektual dan kecerdasan EQ dengan jenjang pendidikan tinggi. Bukan anggota DPR yang dipilih hanya karena popularitas. Anggota DPR harus menjadi contoh teladan supaya generasi muda dan anak-anak bersemangat meneruskan pendidikan.
  3. Menteri Pendidikan harus menambah bantuan beasiswa kepada semua anak berprestasi dan kurang mampu, memilih tenaga pendidik yang kompeten, mengevaluasi keberjalanan UN, dan menyediakan sarana prasarana pendidikan yang baik untuk semua daerah Indonesia.
  4. Tenaga pendidik dan kepala sekolah/universitas harus mendidik anak didiknya dengan ikhlas, memerhatikan perkembangan anak didiknya, disiplin dan menggunakan waktu saat proses belajar mengajar, memberikan contoh teladan kepada anak didik bukan mengajak anak didik melakukan kecurangan saat ujian. Tenaga pendidik harusnya diberikan gaji yang lebih tinggi. Supaya tidak ada yang beranggapan “ngapain jadi guru/dosen kalau gajinya kecil”. Padahal, jika tenaga pendidiknya cerdas maka anak didiknya juga akan cerdas sehingga Indonesia bisa move on.
  5. Warga dari golongan ekonomi atas memberikan bantuan pendidikan baik sekolah gratis, beasiswa, maupun menjadi orang tua asuh untuk warga miskin. Sedangkan warga yang bukan dari golongan ekonomi atas menjadi relawan yang ikhlas dengan mengajar dan menyemangati anak-anak miskin supaya mereka rajin belajar dan tidak putus sekolah.
  6. Siswa/mahasiswa belajar dengan tekun, belajar untuk mencari ilmu bukan semata-mata hanya mengharapkan nilai. Siswa/mahasiswa harus mengerjakan ujian tanpa melakukan kecurangan. Yakinlah bahwa belajar yang hanya mengaharapkan nilai itu akan cepat lupa sehingga tak ada ilmu yang masih menempel di otak.
  7. Blogger menjadi Citizen Journalism Indonesia dan menulis pada blog yang edukatif dan inspiratif sehingga dapat menjadi sumber ilmu bagi pembacanya. Jangan menjadi blogger yang copy paste dari tulisan orang lain.

#Dompet Dhuafa dengan #IndonesiaMoveOn

Dompet Dhuafa merupakan lembaga nirlaba yang mempunyai misi kemanuasiaan untuk membantu kaum dhuafa dengan dana ZISWAF (Zakat, Infaq, Shodaqah, Wakaf). Dompet Dhuafa yang memiliki tagline “Indonesia Move On” didirikan oleh empat orang wartawan yaitu Parni Hadi, Haidar Bagir, S. Sinansari Ecip, dan Eri Sudewo. Saat ini, Dompet Dhuafa tidak hanya memberikan bantuan pendidikan, tapi juga kesehatan, ekonomi, dan sosial.

35ddffba6f46f9202300a34a6ea63f5a_dompet-dhuafa

Program Kerja Dompet Dhuafa

Pendidikan - membangun sekolah SMPIT FIS (Pekanbaru) dan SMART Ekselensia Indonesia (Bogor), Sekolah Guru Indonesia (mendidik guru yang berkualitas), Beastudi Indonesia (memberikan beasiswa kepada mahasiswa dari 20 PTN dan PTS), Makmal Pendidikan (meningkatkan kapasitas kompetensi guru dan pelayanan pendidikan berkualitas di sekolah-sekolah binaan).

Kesehatan - Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (memberikan pelayanan kesehatan cuma-cuma kepada peserta yang telah terverifikasi) dan RS Rumah Sehat Terpadu (memberikan pelayanan kesehatan tingkat rujukan sekelas rumah sakit).

Ekonomi - IMZ (memberikan pelatihan, konsultasi dan pendampingan, serta riset dan advokasi zakat), Masyarakat Mandiri (pemberdayaan komunitas pedesaan, perkotaan, serta komunitas wilayah asal pekerja migran), Kampoeng ternak (mengembangkan program peternakan), Tebar Hewan Kurban (membagikan hewan kurban kepada kaum dhuafa), Tabung Wakaf Indonesia (mengelola wakaf), Lembaga Amil Zakat (mengelola zakat), DD travel (mengelola haji).

Sosial - migrant institute (pengelolaan buruh migrant), disaster management centre (tim tanggap darurat untuk bencana alam)

Penutup

Pendidikan merupakan fondasi utama demi mewujudkan Indonesia move on. Melalui pendidikan lahirlah generasi muda yang cerdas sehingga negara menjadi maju dari berbagai sektor. Untuk mewujudkan Indonesia move on, semua stakeholder mulai dari pemerintah sampai rakyat harus bahu membahu meningkatkan kualitas pendidikan dan semua anak Indonesia bisa mengenyam pendidikan dengan layak. Rumah Baca Rahim merupakan salah satu contoh bimbingan belajar yang dibuat atas insiatif pribadi untuk memberikan pendidikan gratis demi mewujudkan mimpi anak-anak dhuafa di lingkungan sekitar. Sedangkan Dompet Dhuafa merupakan lembaga nirlaba yang memiliki program tidak hanya pendidikan tapi juga kesehatan, ekonomi dan sosial. Sebagai WNI, mari kita bahu-membahu mewujudkan Indonesia move on!

Referensi:

http://www.dompetdhuafa.org/

a2b587935b839f21b32684e267268bbd_5ad0ed364a40f92579beb2f4adffaee0_banner-cji-300


TAGS


-

Author

Follow Me